Selamat datang di Catatan Harian Gue! Curhat, Menulis, Iseng-isengan, Informasi, dan Cerita keseharian gue tulis di blog ini. Selamat membaca... This is my other sides!

Selasa, 14 Juni 2016

Saat Ibadah Hanya Sebatas Penghargaan


Selamat datang kembali pembaca, di area berbahaya merusak pikiran. Hahaha, kali ini aku akan ikuti arus tren di bulan ramadhan, apa itu?Tak seperti ramadhan yang lalu, ramadhan kali ini diwarnai dengan berbagai polemik di masyarakat, dari yang menuntut toleransi, dihargai, dihormati, sampai yang terbaru adalah razia warung makan di banten yang membuat seorang ibu tua kesusahan. Mari kita cermati satu-persatu lalu kita kupas dan dirujak *eh* oke cekidot.

Puasa vs Tidak Puasa

Loh kok malah kemana-mana, tunggu dulu. Ini adalah bentuk pikiran terbuka ku, biar gak dikira memihak atau apalah. Menurut ku puasa atau tidak itu adalah urusan seseorang dengan tuhannya, Aku puasa karena Allah, dan jika aku tidak puasa biarkan itu menjadi urusan aku dan tuhanku. Tapi, orang tidak berpuasa pasti memiliki alasannya. Menurut aku ada enam golongan orang yang aku tolerir untuk tidak berpuasa yaitu
1. Non Muslim (Yang tidak memiliki kewajiban berpuasa)
2. Ibu menyusui dan Orang hamil tua.
3. Anak Kecil / Belum baligh
4. Pekerja kasar yang membutuhkan tenaga ekstra untuk menyambung hidup.
5. Musafir (dalam perjalanan jauh).
6. Orang gila.
Keenam golongan orang tersebut sangat boleh untuk tidak berpuasa, setidaknya menurutku pribadi, Jika ada orang muslim dewasa, sehat wal'afiat, bukan pekerja kasar dan tidak sedang menyusui namun tidak puasa, masukan saja pada golongan gila. Jadi kita tidak akan punya masalah apapun dengan yang tersebut.

Toleransi Pada Yang Berpuasa

Toleransi tersebut aku sangat setuju dan mendukung, jangankan pada orang yang berpuasa, toleransi ibadah agama lain saja setuju apalagi yang satu ini. Tapi, jangan pernah lupakan toleransi kita pada yang tidak berpuasa seperti yang aku sebut di poin pertama. Inti dari hidup berdampingan adalah saling support bukan saling menjatuhkan, andai saja pikiran semua orang lebih terbuka dan membuang semua sikap fanatisme berlebihan terhadap suatu golongan atau kelompok, mungkin masalah seperti ini tidak akan pernah terjadi. Andai orang berpuasa menghargai mereka yang tidak berpuasa dengan membiarkan mereka makan seperti biasanya, dan yang tidak berpuasa menghargai yang berpuasa dengan tidak makan sembarangan (tau tempat dan situasi) pasti semua akan indah.

Saat Ibadah Hanya Sebatas Penghargaan

Tapi apa yang terjadi di negaraku yang katanya menganut paham "Bhineka Tunggal Ika" berbeda tetap satu. Apa yang terjadi di negara yang di sila pertama sudah disebutkan "Ketuhanan yang Maha Esa" tapi bertingkah seolah-olah diri sendiri yang menjujung tuhannya, sedangkan yang lain tidak boleh. Indonesia adalah negara yang lahir dari berbagai etnis, suku, budaya dan agama. Bahkan diatur dalam undang-undang kebebasan beragama, lalu apa jadinya semua itu saat semua orang dipaksa untuk merasakan apa yang satu agama rasakan, khususnya di bulan ramadhan ini. Orang non muslim dipaksa untuk susah mencari makan di siang hari karena warung-warung dipaksa tutup, Apa tidak dipikirkan bagaimana seandainya seorang pekerja kasar yang terpaksa tidak berpuasa mencari makan untuk mensuplay tenaga buat bekerja lagi?atau bagaimana pemasukan dari si pemilik warung saat warungnya ditutup?bagaimana andai ada seorang ibu hamil yang kelaparan mencari makan namun warung-warung tutup?berapa banyak kerugian yang dibuat?Lalu mau menyalahkan siapa? Menyalahkan bulan ramadhannya?lalu untuk apa bersusah-susah puasa jika akhirnya menimbulkan kerugian pada sesama? Itu bukanlah bentuk penghargaan atau toleransi namanya, toleransi datang dari hati, buka dipaksa sampai diobrak-abrik begitu, Islam sejati tidak pernah menuntut itu semua tapi menjalani dengan iklas, melihat orang makan disiang hari adalah bentuk cobaan orang berpuasa, se teguh dan sekuat mana iman kita untuk terus berpuasa ditengah-tengah lingkungan yang menggoda itu. Islam tidak menuntuk dihargai atas ibadahnya, islam tidak pernah merugikan sesama, Islam Rahmatan Lil Alamin (memberikan rahmat untuk semua umat semesta) Artinya bukan hanya untuk orang islam itu sendiri, tapi untuk semua ciptaan-Nya. Lalu rahmat apa yang diperoleh mereka jika ada segelintir orang yang mengaku memperjuangkan toleransi saat ramadhan tapi dirinya sendiri tidak mentoleransi orang lain, ibaratnya hukum tabur tuai, apa yang ditanam itu yang kita panen, jika ingin di hormati maka belajarlah menghormati. Negara ini bukan cuma punya umat islam, negara ini punya semua warga Indonesia yang berasal dari berbagai golongan agama, suku dan ras. Negara yang kita cintai ini, tidak hanya harus mengurusi umat islam tapi semua warganya. Jika Ibadah hanya sebatas penghargaan, mungkin sebaiknya kamu ikut lomba saja biar dapat penghargaan dan hadiah. Oh iya, semoga kejadian yang dialami si ibu tua pedagang warteg di Banten tidak lagi terulang, agar tak semakin terlihat kualitas ibadah muslim di indonesia hanya sebatas penghargaan.

Pesan terakhir ku adalah, marilah kita belajar untuk melihat orang lain (non muslim) makan siang saat puasa, loooohhh hahahha maksutnya biar gk baper lagi, puasa liatin orang makan. Itu ujian mas bro, mbak bro. Jadi jalani, anggap itu parameter keimanan kita. Jika tidak tahan lambaikan tangan ke kamera dan nyatakan menyerah, OTW warteg dan makan deh sampe kenyang...

Tulisan ini bukan untuk memojokkan umat Islam, justru aku ingin membuka hati saudara-saudaraku sekalian. Bahwa Islam tidak se manja itu untuk minta dihargai apalagi di hormati (upacara kale pake hormat) :D islam itu tentang keteguhan iman dalam menahan godaan, jadikan semua godaan tantangan bukan malah dihancurkan sehingga membuang nilah godaannya. Dan ingatlah lagi, bahwa kita tidak sendiri, islam tidak sendiri, Islam bukan indonesia, Indonesia bukan islam. Tapi, ada orang Islam di Indonesia. Catatlah, Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku (Tidak perlu saling ikut campur tentang agama orang lain, cukup memantapkan keimanan sendiri).
Jayalah negeriku, semangatlah menggapai hari kemenangan saudara-saudari muslimku. Tetap semangat berpuasa, kurangi emosi, perbanyak senyum, sedikit bicara (mulut bau) perbanyak menulis, kerjaaaa kerjaaa jangan diam saja.. babayyyy..

Thanks dah sempetin waktunya baca artikel Saat Ibadah Hanya Sebatas Penghargaan. Jangan lupa tinggalin jejak ya di kolom komentar! Mari budayakan menghargai dan menghormati karya tulis orang lain dengan tidak copy paste...
Salam hangat, Mas Nano
Selasa, 14 Juni 2016

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar anda!